Batu merangkai kata pada angin
mengkaku buta senja mendingin
surya tersenyum, bergulir, hingga berlalu
di kawal angin yang meredam deru.
Hambar di setiap lidah berkata
mengukir skema di dinding keraton tanpa pelita
sunyi, sepi, merangkul gelap
tak ada jangkrik yang hadir mengusik senyap.
Lidah lincah tanpa tulang
menyilat kata berwarna belang
Nalar kah yang mengacu pada setiap bait?
atau tanpa rasa namun seolah tawa menjerit.
Di pertengahan malam mengharu biru
menulis narasi bertema sendu
ah, lagi-lagi madu menghambar huni rasa
karena tak ada lagi peka dalam asa.
Setiap kata genggam arti bermakna
namun, hati tuli tanpa telinga
hanya bermain kata di kegelapan alam
tanpa rasa menyeru puisi di titian kelam.
Mereka mencengang pilu
pesakitan terlebur dan berlalu
di mana letak hati mu tuan?
ternyata sembunyi dalam kebekuan.
Sirine mengusik khayalan
membuyar kata yang telah tertelan
berlari mengarah lampu bermain sepi
berhenti di ujung sisi menepi.
Jantung berguncang tersirat tanya
apakah saat ini masih tanpa rasa?
sungai melinang menekuk wajah
rasanya itu mungkin telah musnah.
Tuan, aku tawarkan sesendok aren manis
kenapa tetap saja kau kosong menatap sinis?
ku telan saja sendiri untuk menikmati segar
seolah dahaga melepas layak mati memudar.
Sajak terucap berjuta bait
biarlah indah terlihat, walau terasa pahit
sendiri menyulam benang mengusut
bermimpi keajaiban mengubahnya menjadi selimut.
Berucap Kata Tanpa Makna
"Yang mampu selimuti hati walau dingin tanpa rasa"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar