Senyum Membalut Luka

Minggu, 13 Maret 2011

Anak Titipan Tuhan yang Merintih Lugu

Sajak ini ku rangkai setelah ku mendengar seorang gadis kecil berkata "Aku mau hidup di kuburan saja, biar tenang, tidak ada yang memarahi.."

Seketika hati ini teriris
begitu pedih mendengar desahan lugunya,
tiada yang memahami
bahkan, ia pun tak mengerti
apa yang menyiratkan sebuah makna hidupnya.

Kenapa harus terabaikan??
Bahwa sebenarnya ia pun tak menginginkan kehidupan.

Bukankah buah hati titipan Tuhan?
Kenapa membuat ia tersakiti dan menentang takdir untuk diciptakan?..

Apapun yang menjadi titipanNya
sudah selayaknya terjaga dengan ketulusan dan kasih sayang.

Gadis kecil memasuki dunia yang membimbang,
mencari kedamaian dan sentuhan kelembutan dari orang sekitarnya,
namun tak satu pun mau menerima dan memperdulikannya.
Nasib terombang ambing oleh waktu,
ditatapnya mata dunia yang begitu angkuh.

Bukankah pelukan seorang ibu kehangatan baginya?
Bukankah senyuman seorang ayah ketenangan raganya?

Namun, itu hanya angan-angan ketika dia memasuki rumah gelap yang penuh dengan teriakan-teriakan sumpah serapah untuknya.

Bisakah kita melihat luka membelah di sisi hatinya?

Berbagai cara ia lakukan demi sepercik perhatian,
semua ia lakukan demi setitik kasih sayang.

Begitulah ke-lugu-annya yang mengira semua yg dilakukan akan berhasil.
namun, tetap saja ia sendiri dan terkucil...

Kesana kemari mengemis kasih sayang.
Mencari suatu kedamaian yang semestnya ia temukan setelah menemukan kehidupan.

Ya Tuhan, kedzaliman melanda di setiap hela nafasnya..
Apa jadinya jika ia menyatakan ungkapannya???

Adakah kami sepenuhnya menginginkan kehidupan???

Wahai kita anak manusia...
Jika kita telah menyanggupi perjanjian kita kepada illahi...
Jalani dengan ikhlas.

Jagalah hati sesamamu, orang tua dan saudara-saudaramu, beserta anak cucu mu...

Hindarilah perbuatan dzalim yang sungguh Dia murka-kan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar