Senyum Membalut Luka

Minggu, 27 Februari 2011

Sajak Untuk Sosok Panglima Hatiku (ABAH)

Ketika ku sambut tangan keriput nan hangat
ku cium dengan penuh rasa sayang
kau belai ubun-ubun ku penuh cinta
membuat ku terjaga pada dinginnya dunia.

Panglima hidup
yang melindungi dua sosok hawa
berjalan di tengah terik bermandi peluh
mencari sesuap nasi untuk Ratu dan Puteri kecilnya.

Abah....
Bisakah aku mengganti peluh mu menjadi mutiara?


Dulu....
aku duduk bermanja di pangkuanmu
bernyanyi melantun bersama di atas perahu
menuntun tangan kecilku saat menyusuri lampu-lampu kota
dan memeluk tubuhku yang tengah menangis ketakutan.

Semua begitu hangat terasa
secerca kerinduan ini sangat lama terbendung
ketika sebaris kata yang berisi nasihat itu
mampu merangkul tubuh yang tak mampu melawan dingin dunia.

Satu bait....
petuah pernah kau lisan kan di suatu malam itu
membuatku tegar berdiri sendiri
meski panglima hidupku yang penuh kebijaksanaan
kini berada jauh dariku.

Kau hamparkan sejadah yang panjang
di ikuti dengan dua makhluk terindah di sudut belakangmu
kita menemui kedamaian bersama
dan memuji kebesaran penguasa yang telah menjadikan hidup kita sempurna.

Puteri kecilmu ini...
begitu merindukan lantunan kesucian kitab Allah yang pernah kau serukan
suaramu begitu merdu dan mendayu dayu
hingga mampu terjaga menuju malam-malam yang larut dan syahdu.

Sungguh air mataku tak mampu terbendung
menatap sosok mu yang semakin menua
berdiri tersenyum mamandangi ku yang telah dewasa
dan melepaskan genggaman tanganku kepada hidup.

Ingin rasanya mengembalikan waktu
dan ku tahan hingga akhir hidupku
berada dalam kerajaan kecil penuh cinta
dan terus berada dalam dekapan panglima hatiku.

Abah, tetap lah menjadi sosok panglima yang bijaksana.
jangan biarkan aku jatuh dalam kubangan dosa yang terkutuk.

Dan...
Penguasa Alam tetaplah beri kekuatan pada Panglima ku
agar tetap mampu menjaga Ratu dan Puteri kecilnya.








Hidayatul sya'diah

Sabtu, 26 Februari 2011

Ruang Maya

Sudah tak tersadar
aku lama menghuni sudut ini
bersandar pada dinding kehidupan lainnya
terindah namun semu nampak nyata.

Ku buka jendela hidup sesungguhnya
namun begitu suram tak menerima ku
entah....
aku mengasing seperti berbeda.

Kehangatan mimpi ternyata lebih indah
namun tetap saja ini hanya jalinan ilusi
mengalir bagaikan aliran daya
dan meluaskan jaringan pengikat naluri.

Tak lepas kisah cinta pun membaur
topik terhangat di saat pagi, siang, dan malam
penawaran yang mampu membuai kebahagiaan
yang membuat ku tersesat di khayalan.

Aku telah menjadi satu pada kelam
namun aku mampu menggapai kepuasan tersendiri
membaur di kehidupan berbeda
dengan melepas hasrat kejenuhan.

Saat ini di luar sana
mereka menikmati dingin malam
berjabat tangan dan bertatap
melihat bintang yang menggemintang
bahkan merasakan buaian angin malam.

Namun,
aku tetap saja bersandar pada sudut semu
menjalin cerita bersama kefiktifan
menatap kehidupan di ruang maya
dan melepas hasrat kesendirian.

Keindahan Fatamorgana
memanjakan segumpal rasa
hingga menenggelamkan ku ke dalam mimpi
yang sebenarnya harus terbatasi.

Negeri angan
melukis kedamaian sebagai istana
syair mengalun cinta sebagai penyejuk

dan kini ku menujunya mengambung tinggi terbawa oleh suasana.

Menatap dua kehidupan dari sudut mata
terpejam mencari kesungguhan
meraba setiap rasa yang ku alami
tak lepas ku mencoba menyentuh dilema mimpi.

Keabadian...
bangunkanlah aku
dari rangkaian mimpi indahku
hingga ku temui "Kesungguhan Cinta" saat ku terengah-engah berlari dalam nyata.








Hidayatul sya'diah

Jumat, 25 Februari 2011

Waktu Memburu Kehidupan

Nalar ku mengalut di tengah kabut malam
benakku terkikis hingga hati kunjung menipis
bicara pada seruan jangkrik
tak terdengar lagi aku
karena mereka menyeru bersama dalam keheningan
sembari ku catat setiap pengakuan relung
yang telah menari-nari 
mengobrak abrik gumpalan sarafku.

Hei....
dingin....
kenapa menyentuh ragaku yang melayu?
Tak kau lihat air mata membeku??
tak kau rasa tulangku mengkaku??

Penjaga malam....
Lonceng apa mendera di malam buta?
kenapa tak kau pukul saja hati yang membatu itu?
kau lebur saja wujud kerasnya menjadi pasir
lalu kau hambur di jalan yang berkerikil.

Lalu, mengapa awan mengabut di tengah malam?
tak begitu jelas nampak
namun sembunyikan berjuta bintang
hei.....
minggir sajalah...
biarkan aku menatap wujud kelap-kelipnya
apa urusannya menghalangi tengokanku??
malam tak lama pergi
sedangkan detik kian mengganti tanpa perduli.

Bunga-bunga...
kalian mulai merekah
kemudian esok pagi majikan memetik kehidupanmu
lalu terkubur dalam air yang terbendung
kenapa kalian tersenyum melihatku?
aku tahu kalian indah
pantaslah kalian mewangi
setulus wangian kesucian hati 
yang menebar aroma kesejukan alami
meski harus mati
embun pun ikut menangisi hari
karena hanya menyiramimu di saat ini sampai pagi nanti.

Dan aku...
roh ini akan mengambung 
entah berpijak dan bersandar di mana kelak??
atau berjalan menuju arah timur, barat, selatan, ataupun utara??
mampu kah kembali menyatu kembali bersama jasad??
atau hanya mampu menatap???
kemudian pergi dalam ketenangan abadi milik sang Pencipta.

Waktu selalu memburu kehidupan
berkuasa mengurai perpisahan
entah hakikat ataupun keadaan
namun waktu selalu menyemai keabadian di dalam hati
membaur meski tetap berlalu
tapi kenangan sulit terhapus
tetap mengabadi di dalam ingatan kehidupan.

Sebelum waktu mengurai cerita hidup yang berakhir sajak telah tertulis indah di tengah malam yang dingin dan mengabut.



Hidayatul Sya'diah

Kamis, 24 Februari 2011

Sajak Pupus

Tertulis satu kisah pahit 
terisyaratkan untuk kisah cinta
yang hanya dapat terpendam 
setelah terjatuh dalam jurang perpisahan.

Sanubari mengukir cinta yang tak bertepi
namun, harus berperang melawan kepupusan hati
yang sebenarnya telah jelas terlihat
dalam relung benak terdalam.

Meskipun ku sadari 
tak dapat menyentuh kehangatan hatimu lagi
namun biarlah aku berharap untuk cinta yang terlukis pekat di hatiku
dan kau pun tak pernah ingin tahu.

Seketika...
ku telah menyadari bahwa kau telah bersamanya
tak dapat berkata hanya batinku mengusik rintihan pedih
bahwa tak dapat lagi aku membaur dalam langkah hidupmu
seperti dulu saat ku memeluk kegundahanmu.


Semestinya kau melihat 
kalbuku menatapmu dari kejauhan
mengulur kedua tangannya
dan menanti untuk kau sambut.

Seindah cerita yang lalu
tak kan ku ubah ukiran wajah mu di hati menjadi keabstrakan
kau tetap terindah dan berwujud
walau sesungguhnya tak nyata.

Siksa batin ini yang mencintamu
hanya dapat melepaskan sejuta pasrah kepada Illahi
merelakan hati mu yang tak tergapai
dan telah kau berikan untuknya.

Saat hati melumpuh sedih
hanya dapat tersenyum menatapmu bahagia
memuitis dalam jurang pemisah kita
walau kau pun tak pernah ingin tahu.
 
Seandainya kau peka menyentuh hatiku
merasakan goresan luka yang sesungguhnya mampu kau obati
merangkul kegundahan tak terbalas
dan mendekap dinginnya kesendirian ku saat menantimu.

Namun, kau tak pernah ingin tahu setiap rasa ku yang suci mencintaimu walaupun dalam sajak pupus.

Rabu, 23 Februari 2011

Sajak Untuk Mama

Senja menguning di sisi langit
angin berhembus seraya mengalun bersama kumandang adzan
ketika ku menghapiri tetesan air yang mensucikan jasadku
dengan keikhlasan hati menghampiri Illahi.


Sembah sujudku kepada penguasa langit dan bumi
berbaur dengan alunan ayat-ayat kehidupan
berserah diri dan meminta
seraya berharap agar sosok yang terindah dalam hatiku ini selamat dan bahagia.


Mama...
ketika ku terbujur kaku dipelukmu
lantunan do'a mengiringi tetesan air matamu
serta tak luput helaian rambut tersentuh tangan halusmu
sembari memeluk tubuh ku yang telah melemah tak berdaya.


Saat jiwa ku mengalut kabut di indahnya pagi
langkahnya menghampiri ku
menuntunku ke suatu tempat yang indah
tempat yang memotret indahnya kehidupan.


Ikan-ikan kecil yang hidup bersama induknya
di dalam suatu wadah yang membening
mengisyaratkan isi hatimu
bahwa aku masih memilikimu layaknya ikan-ikan kecil bersama induknya.


Mama...
jika saat ini kau jauh dariku
sesungguhnya aku tak kuasa terlepas darimu
aku hanya hidup dalam bayangmu
dan kau pun hidup di dalam bayangku.


Mama...
Ketika malam berkata bahwa ada sejuta bintang di langit
bolehkah aku menunjukmu sebagai bulan?
yang paling terang di sana
dan memberikanku sejuta bintang penghapus sepiku.

Aku akan berusaha melukis senyummu
mengganti setiap tetes air mata kerinduanmu
menjadikan suatu hari nanti
sebagai hari bahagiamu.

Hari ketika aku telah menjadi seperti yang kau pinta.



Selasa, 22 Februari 2011

Bait Terindah Untuknya

Sajak ini tertulis di ambang kekalutan dunia ku
aku telah membaur bersama keabstrakan kehidupan
memilih jalan yang begitu rumit untuk ditafsirkan
kenapa???
aku pun tak dapat memahami
namun mendefinisikan kata yang ku ciptakan
lebih mudah dari pada mengartikan setiap sikapnya.

Dia...
orang yang telah memahat namanya di dinding kelam hatiku
aku pun tak dapat lagi menggapai sanubarinya
hanya mampu menatap bahasa kalbunya
yang telah menghapus sosok ku di sekitar kehidupannya.
Karena, ternyata pertemuanku dengannya adalah tanda suatu perpisahan
itu lah yang terjadi.

Hingga tiba saat aku untuk membaur dengan berjuta puisi
barisan-barisan yang mengisahkannya
tentang hati ku.
Entah kenapa dia tak pernah lenyap dalam sajak ilusi ku?
kata demi kata terangkai berarah kepadanya.

Tentang kerinduan, jeritan tersakiti, serta pengharapan.
Sesungguhnya aku ingin mengenang malam
saat aku menulis puisi terindahku untuknya
saat aku terkuatkan oleh bait-bait kata darinya
dan saling membalas dengan hasrat yang penuh kesyahduan rindu.

"  Kapan aku dapat menulis lagi untuk mu?
menulis rangkaian bait-bait yang indah hanya untuk mu".

Ini Aku dan Ini Kehidupanku

Aku terlahir sebagai anak semata wayang
yang hidup dengan predikat "Anak Manja"
bukan ingin ku dan bukan kuasa ku menolak kehidupan
namun, aku selalu mempercayai TAKDIR.
Tuhan selalu merencanakan yang terindah untuk hidup makhluk-Nya.
Mungkin dunia membenci kehadiran ku
tapi Tuhan, Orang tua, dan seluruh keluarga ku tidak.
mereka cinta sejati yang dapat menerima keadaan yang tak sempurna.
Ingin aku mengubah predikat itu dengan berbagai cara
namun, dunia mengacuh tak perduli dengan usaha ku.
Tak mengapa mereka berpaling, dan meremehkan setiap langkahku
asal Tuhan selalu berpihak pada ku sebagai hamba-Nya 
yang menjalani dengan bertuntun pada TAKDIR.
Dunia hanya melihat satu titik hitam di atas kertas
namun mengabaikan sisi putih dari selembar kertas
kadang ku bertanya kenapa seperti itu?
Mungkin Tak setiap mata dapat melihat dengan bijaksana.
Aku yakin pasti ada hikmah di balik cerita.
Namun, hingga saat ini aku terus ingin berkata pada dunia.
"Tak selamanya dunia dapat meremehkan ke-tidak sempurnaan hidup seseorang"
karena, setiap kehidupan yang ku lalui adalah perjalanan kedewasaan.
Tak selayaknya menilai keterbatasan sebagai objek utama.
Setiap manusia memiliki jalan kehidupan yang berbeda,
dan sebaiknya PANDANGLAH SEGALANYA SEBAGAI ANUGERAH.

Aku pernah mendengar seseorang berkata:
"Kadang butuh LUKA untuk menjadi TEGAR
kadang butuh DERITA untuk mengerti makna HIDUP,
kadang butuh HINAAN untuk menjadi KUAT,
kadang butuh HATI yang HANCUR untuk mengerti CARAnya BANGKIT,
dan butuh TUHAN untuk menjadikan semuanya INDAH"

Tujuan Hidupku dan matiku adalah Tuhan serta Kedua Orang Tua ku 
selayaknya jasad yang ingin menjadi yang terbaik untuk-Nya dan untuk mereka.

"Ini lah kehidupan ku yang melawan sejuta hujatan demi penemuan Jati Diri ku"