Senyum Membalut Luka

Sabtu, 26 Februari 2011

Ruang Maya

Sudah tak tersadar
aku lama menghuni sudut ini
bersandar pada dinding kehidupan lainnya
terindah namun semu nampak nyata.

Ku buka jendela hidup sesungguhnya
namun begitu suram tak menerima ku
entah....
aku mengasing seperti berbeda.

Kehangatan mimpi ternyata lebih indah
namun tetap saja ini hanya jalinan ilusi
mengalir bagaikan aliran daya
dan meluaskan jaringan pengikat naluri.

Tak lepas kisah cinta pun membaur
topik terhangat di saat pagi, siang, dan malam
penawaran yang mampu membuai kebahagiaan
yang membuat ku tersesat di khayalan.

Aku telah menjadi satu pada kelam
namun aku mampu menggapai kepuasan tersendiri
membaur di kehidupan berbeda
dengan melepas hasrat kejenuhan.

Saat ini di luar sana
mereka menikmati dingin malam
berjabat tangan dan bertatap
melihat bintang yang menggemintang
bahkan merasakan buaian angin malam.

Namun,
aku tetap saja bersandar pada sudut semu
menjalin cerita bersama kefiktifan
menatap kehidupan di ruang maya
dan melepas hasrat kesendirian.

Keindahan Fatamorgana
memanjakan segumpal rasa
hingga menenggelamkan ku ke dalam mimpi
yang sebenarnya harus terbatasi.

Negeri angan
melukis kedamaian sebagai istana
syair mengalun cinta sebagai penyejuk

dan kini ku menujunya mengambung tinggi terbawa oleh suasana.

Menatap dua kehidupan dari sudut mata
terpejam mencari kesungguhan
meraba setiap rasa yang ku alami
tak lepas ku mencoba menyentuh dilema mimpi.

Keabadian...
bangunkanlah aku
dari rangkaian mimpi indahku
hingga ku temui "Kesungguhan Cinta" saat ku terengah-engah berlari dalam nyata.








Hidayatul sya'diah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar