Senyum Membalut Luka

Kamis, 24 Februari 2011

Sajak Pupus

Tertulis satu kisah pahit 
terisyaratkan untuk kisah cinta
yang hanya dapat terpendam 
setelah terjatuh dalam jurang perpisahan.

Sanubari mengukir cinta yang tak bertepi
namun, harus berperang melawan kepupusan hati
yang sebenarnya telah jelas terlihat
dalam relung benak terdalam.

Meskipun ku sadari 
tak dapat menyentuh kehangatan hatimu lagi
namun biarlah aku berharap untuk cinta yang terlukis pekat di hatiku
dan kau pun tak pernah ingin tahu.

Seketika...
ku telah menyadari bahwa kau telah bersamanya
tak dapat berkata hanya batinku mengusik rintihan pedih
bahwa tak dapat lagi aku membaur dalam langkah hidupmu
seperti dulu saat ku memeluk kegundahanmu.


Semestinya kau melihat 
kalbuku menatapmu dari kejauhan
mengulur kedua tangannya
dan menanti untuk kau sambut.

Seindah cerita yang lalu
tak kan ku ubah ukiran wajah mu di hati menjadi keabstrakan
kau tetap terindah dan berwujud
walau sesungguhnya tak nyata.

Siksa batin ini yang mencintamu
hanya dapat melepaskan sejuta pasrah kepada Illahi
merelakan hati mu yang tak tergapai
dan telah kau berikan untuknya.

Saat hati melumpuh sedih
hanya dapat tersenyum menatapmu bahagia
memuitis dalam jurang pemisah kita
walau kau pun tak pernah ingin tahu.
 
Seandainya kau peka menyentuh hatiku
merasakan goresan luka yang sesungguhnya mampu kau obati
merangkul kegundahan tak terbalas
dan mendekap dinginnya kesendirian ku saat menantimu.

Namun, kau tak pernah ingin tahu setiap rasa ku yang suci mencintaimu walaupun dalam sajak pupus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar