Senyum Membalut Luka

Rabu, 23 Februari 2011

Sajak Untuk Mama

Senja menguning di sisi langit
angin berhembus seraya mengalun bersama kumandang adzan
ketika ku menghapiri tetesan air yang mensucikan jasadku
dengan keikhlasan hati menghampiri Illahi.


Sembah sujudku kepada penguasa langit dan bumi
berbaur dengan alunan ayat-ayat kehidupan
berserah diri dan meminta
seraya berharap agar sosok yang terindah dalam hatiku ini selamat dan bahagia.


Mama...
ketika ku terbujur kaku dipelukmu
lantunan do'a mengiringi tetesan air matamu
serta tak luput helaian rambut tersentuh tangan halusmu
sembari memeluk tubuh ku yang telah melemah tak berdaya.


Saat jiwa ku mengalut kabut di indahnya pagi
langkahnya menghampiri ku
menuntunku ke suatu tempat yang indah
tempat yang memotret indahnya kehidupan.


Ikan-ikan kecil yang hidup bersama induknya
di dalam suatu wadah yang membening
mengisyaratkan isi hatimu
bahwa aku masih memilikimu layaknya ikan-ikan kecil bersama induknya.


Mama...
jika saat ini kau jauh dariku
sesungguhnya aku tak kuasa terlepas darimu
aku hanya hidup dalam bayangmu
dan kau pun hidup di dalam bayangku.


Mama...
Ketika malam berkata bahwa ada sejuta bintang di langit
bolehkah aku menunjukmu sebagai bulan?
yang paling terang di sana
dan memberikanku sejuta bintang penghapus sepiku.

Aku akan berusaha melukis senyummu
mengganti setiap tetes air mata kerinduanmu
menjadikan suatu hari nanti
sebagai hari bahagiamu.

Hari ketika aku telah menjadi seperti yang kau pinta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar