Nalar ku mengalut di tengah kabut malam
benakku terkikis hingga hati kunjung menipis
bicara pada seruan jangkrik
tak terdengar lagi aku
karena mereka menyeru bersama dalam keheningan
sembari ku catat setiap pengakuan relung
yang telah menari-nari
mengobrak abrik gumpalan sarafku.
Hei....
dingin....
kenapa menyentuh ragaku yang melayu?
Tak kau lihat air mata membeku??
tak kau rasa tulangku mengkaku??
Penjaga malam....
Lonceng apa mendera di malam buta?
kenapa tak kau pukul saja hati yang membatu itu?
kau lebur saja wujud kerasnya menjadi pasir
lalu kau hambur di jalan yang berkerikil.
Lalu, mengapa awan mengabut di tengah malam?
tak begitu jelas nampak
namun sembunyikan berjuta bintang
hei.....
minggir sajalah...
biarkan aku menatap wujud kelap-kelipnya
apa urusannya menghalangi tengokanku??
malam tak lama pergi
sedangkan detik kian mengganti tanpa perduli.
Bunga-bunga...
kalian mulai merekah
kemudian esok pagi majikan memetik kehidupanmu
lalu terkubur dalam air yang terbendung
kenapa kalian tersenyum melihatku?
aku tahu kalian indah
pantaslah kalian mewangi
setulus wangian kesucian hati
yang menebar aroma kesejukan alami
meski harus mati
embun pun ikut menangisi hari
karena hanya menyiramimu di saat ini sampai pagi nanti.
Dan aku...
roh ini akan mengambung
entah berpijak dan bersandar di mana kelak??
atau berjalan menuju arah timur, barat, selatan, ataupun utara??
mampu kah kembali menyatu kembali bersama jasad??
atau hanya mampu menatap???
kemudian pergi dalam ketenangan abadi milik sang Pencipta.
Waktu selalu memburu kehidupan
berkuasa mengurai perpisahan
entah hakikat ataupun keadaan
namun waktu selalu menyemai keabadian di dalam hati
membaur meski tetap berlalu
tapi kenangan sulit terhapus
tetap mengabadi di dalam ingatan kehidupan.
Sebelum waktu mengurai cerita hidup yang berakhir sajak telah tertulis indah di tengah malam yang dingin dan mengabut.
Hidayatul Sya'diah
wew....
BalasHapuskeren ka, suksas ya....????
Thanks ya adek bayi gede ku :p
BalasHapus