Ketika ku sambut tangan keriput nan hangat
ku cium dengan penuh rasa sayang
kau belai ubun-ubun ku penuh cinta
membuat ku terjaga pada dinginnya dunia.
Panglima hidup
yang melindungi dua sosok hawa
berjalan di tengah terik bermandi peluh
mencari sesuap nasi untuk Ratu dan Puteri kecilnya.
Abah....
Bisakah aku mengganti peluh mu menjadi mutiara?
Dulu....
aku duduk bermanja di pangkuanmu
bernyanyi melantun bersama di atas perahu
menuntun tangan kecilku saat menyusuri lampu-lampu kota
dan memeluk tubuhku yang tengah menangis ketakutan.
Semua begitu hangat terasa
secerca kerinduan ini sangat lama terbendung
ketika sebaris kata yang berisi nasihat itu
mampu merangkul tubuh yang tak mampu melawan dingin dunia.
Satu bait....
petuah pernah kau lisan kan di suatu malam itu
membuatku tegar berdiri sendiri
meski panglima hidupku yang penuh kebijaksanaan
kini berada jauh dariku.
Kau hamparkan sejadah yang panjang
di ikuti dengan dua makhluk terindah di sudut belakangmu
kita menemui kedamaian bersama
dan memuji kebesaran penguasa yang telah menjadikan hidup kita sempurna.
Puteri kecilmu ini...
begitu merindukan lantunan kesucian kitab Allah yang pernah kau serukan
suaramu begitu merdu dan mendayu dayu
hingga mampu terjaga menuju malam-malam yang larut dan syahdu.
Sungguh air mataku tak mampu terbendung
menatap sosok mu yang semakin menua
berdiri tersenyum mamandangi ku yang telah dewasa
dan melepaskan genggaman tanganku kepada hidup.
Ingin rasanya mengembalikan waktu
dan ku tahan hingga akhir hidupku
berada dalam kerajaan kecil penuh cinta
dan terus berada dalam dekapan panglima hatiku.
Abah, tetap lah menjadi sosok panglima yang bijaksana.
jangan biarkan aku jatuh dalam kubangan dosa yang terkutuk.
Dan...
Penguasa Alam tetaplah beri kekuatan pada Panglima ku
agar tetap mampu menjaga Ratu dan Puteri kecilnya.
Hidayatul sya'diah
aq suka puisi ini..
BalasHapusbanyak jempol buatmu.
Thanks kancil,,
BalasHapusjempol kamu koleksi pertama ku :)